Jakarta, DMC - Departemen Pertahanan
supaya melanjutkan pendayagunaan industri pertahanan dalam negeri dalam
pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Oleh karena itu telah
diputuskan kebijakan kredit ekspor yang menjadi sandaran utama pembiayaan
pengadaan alutsista pada waktu yang lalu, akan digeser dengan lebih menggunakan
komponen dalam negeri rupiah murni, sehingga tercapainya efisiensi dan
kecepatan didalam pembiayaan alutsista.
Demikian
dikatakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono usai memimpin Rapat Kerja Terbatas
Bidang Pertahanan Negara, Senin, (4/2), di Kantor Dephan, Jakarta. Rapat
tersebut dihadiri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, para Menko, Menhan RI beserta sejumlah
Kabinet Indonesia Bersatu lainnya, Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, Kapolri,
seluruh pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Pertahanan serta para
Direktur Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dan Bank
pemerintah.
Presiden
RI menjelaskan, rapat kali ini untuk mendengarkan laporan dari Menteri
Pertahanan tentang evaluasi program kerja tahun 2007 dan untuk mengetahui prioritas
serta agenda kegiatan Dephan pada tahun 2008. Masalah penting bagi Dephan adalah,
supaya terus mengaktualisasikan, melakukan pemuktahiran kebijakan dan strategi
pertahanan negara dan merespon perkembangan lingkungan strategis serta persepsi ancaman.
Menurut
Presiden dari laporan Menhan melalui kebijakan, rencana dan program untuk
pengadaan alutsista yang sesuai dengan kebutuhan TNI saat ini, diperuntukan
bagi kepentingan penangkalan, tugas-tugas nyata diwaktu damai dan kontigensi. Hal
ini dapat dikembangkan secara cepat untuk mengemban tugas mempertahankan
kedaulatan dan keutuhan negara.
Sementara
itu yang menjadi prioritas didalam membangun kekuatan dan memodernisasi
persenjataan, lebih diprioritaskan pada kepentingan tugas-tugas dan operasi nyata, baik operasi militer untuk
pertahanan maupun operasi militer selain perang yang dikenal dalam undang
undang. Selanjutnya juga diperhatikan
kepentingan
pendidikan dan latihan, kepentingan kesiagaan, pemeliharaan secara menyeluruh
dan kesejahteraan yang layak bagi para prajurit.
Hal
lain yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut, lanjut Presiden adalah
Indonesia akan terus mempertahankan partisipasinya dalam Peace Keepping Mission
dengan melibatkan sejumlah anggota TNI dan Kepolisian diberbagai medan konflik
di dunia.
Menyinggung
mengenai bisnis TNI, Presiden RI menjelaskan, harus dirumuskan secara tajam tentang
kategori bisnis dan bukan bisnis yang dilakukan di lingkungan TNI. Presiden
mencontohkan seperti koperasi untuk kesejahteraan anggotanya yang tidak dapat
dikategorikan sebagai bisnis TNI. Untuk itu lanjut Presiden, saat ini Dephan dan
TNI sedang menata kembali hal tersebut sesuai dengan amanat undang undang.
Sementara
itu Menhan Juwono mengatakan, masalah alokasi anggaran untuk Dephan maupun
Mabes TNI terkait dengan keadaan ekonomi Indonesia saat ini, Dephan menerima
apapun yang diperoleh Departemen Keuangan karena Dephan memahami pemerintah saat
ini lebih memprioritaskan dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan.
Oleh
karena itu lanjut Menhan, di jajaran
polhukam termasuk Dephan menerima apapun yang diberikan pemerintah melalui
Depkeu dengan melakukan penajaman prioritas tentang penggunaan alutsista termasuk
pengadaan alutsista baru sesuai kemampuan anggaran. (BDI/HDY)