1

     Languages



     Categories Menu
· Politik & Hankam
· Ekonomi & Hukum
· Iptek&Pendidikan
· Diplomasi Pertahanan
· Kesra & Personel
· Opini/Artikel
· Olahraga & Religi
· Berita TNI Pilihan
· Kliping Internet
· Jurnal
· Tanggapan Kasus

     Statistik
· Statistik


     Perpustakaan
Perpustakaan Dephan

     Sedang Online
Saat ini ada, 28 tamu

Konsep Defence Investment Tegaskan Kontribusi Aspek Pertahanan Terhadap Pembangunan Ekonomi

Rabu, 28 Juli 2010

Jakarta, DMC  - Dengan menggunakan konsep Military Investment atau Defence Investment (investasi pertahanan), maka setiap kali pemerintah mengalokasikan sumber daya pertahanan akan dapat ditegaskan dan diketahui sejauh mana kontribusi aspek pertahanan terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Hal itu dikatakan Pengamat Militer dari Universitas Indonesia Dr. Andi Widjayanto sebagai salah satu pembicara dalam diskusi panel III pada “The Future Defence Leader Workshop 2010” yang diselenggakan Kementerian Pertahanan, Rabu (28/7) di Auditorium Fakultas Ekonomi UI, Depok, Jawa Barat. Diskusi mengambil tema “Kontribusi aspek pertahanan terhadap pembangunan ekonomi nasional”.

Selain Andy Widjayanto, diskusi juga menghadirkan pembicara  antara lain Dirjen Pothan Kemhan Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, D.E.A, Dosen Fakultas Ekonomi UI Nina Sapti Triaswati, Ph.D dan Pengusaha Nasional Rachmat Gobel. Diskusi dimoderatori oleh Peneliti dari LIPI Dr. Jaleswari Pramodhawardani.

Lebih lanjut Andi Widjayanto mengatakan,  secara teori ekonomi apabila setiap berbicara tentang pengalokasian sumber daya untuk pertahanan maka terminologi yang muncul adalah guns versus batter, yaitu setiap kali ada kenaikan alokasi untuk membeli senjata maka alokasi untuk kesejahteraan akan menurun, dan hal itu tidak diinginkan oleh banyak negara termasuk Indonesia.

Namun, teka - teki tersebut oleh para ahli ekonomi dari Cranfield University di Inggris diubah agar bagaimana guns versus batter menjadi guns and batter. Guns and batter diartikan bahwa pada saat anggaran pertahanan dinaikan, maka kesejahteraan juga akan naik.

Pengertian guns and batter dilakukan dengan tidak lagi memakai konsep atau istilah Military Expenditure (pengeluaran/belanja militer), namun diganti dengan konsep yang disebut sebagai military investment / defence investment (investasi pertahanan).

Andi Widjayanto mencontohkan,  misalnya pada saat Indonesia membeli pesawat Shukoi, Kemhan harus dapat membuktikan bahwa keberadaan pesawat Sukhoi tersebut akan memberikan kontribusi sekian persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.  Walaupun tidak memberikan efek secara langsung, namun juga dapat melalui efek stabilitas dan lainnya.

Ditambahkan oleh Andi Widjayanto, contoh yang kedua untuk cara mudah misalnya TNI AD menghitung seberapa besar kerugian yang akan dialami oleh negara apabila tidak ada perbatasan darat di Kalimantan atau di Papua. Bagaimana kemudian illegal logging (penebangan liar kayu)  akan makin meningkat dan seterusnya.

Menurut Andi Widjayanto,  dengan menghitung setiap kali pemerintah menginvestasikan sekian persen sumber daya pertahanan, pertumbuhan ekonomi akan naik sekian persen, maka tidak akan lagi dianggap  bahwa setiap kali pemerintah mengalokasikan sumber daya pertahanan akan menurunkan aspek kesejahteraan. 

Andi Widjayanto mengatakan, saat ini sejumlah negara – negara di dunia ini sudah ada yang berhasil menerapkan guns and batter secara efisien, salah satu contoh adalah Brasil dengan industri pertahanannnya. Brasil membangun industri pertahanannya di kota - kota termiskin di Brasil, sehingga kota - kota itu kemudian memiliki lapangan kerja baru, infrastruktur baru dan lainnya.

Munurut Andi Widjayanto, kalau misalnya seluruh infrastruktur pertahanan Indonesia yang dibangun secara benar, maka infrastruktur pertahanan itu juga akan dapat mendukung pembangunan daerah.

Cara berpikir seperti diatas adalah cara berpikir secara guns and butter yang sudah mulai dicanangkan terutama oleh para ahli ekonomi di Cranfield University. “Saat ini pengertian “guns and batter”  sudah mulai dipakai oleh banyak negara, tetapi dengan salah satu terminology kunci  yaitu dengan mengganti  kata military expenditure menjadi military investment atau defence investment”, tambahnya.(BDI/RTN)




 
     Link Terkait
PERLUNYA REFORMASI BIROKRASI GUNA MEMBANGUN PNS DEPHAN LEBIH POTENSIAL
Pentingnya Kesadaran Bela Negara Menjadi Landasan Sikap Dan Prilaku Para Seniman Dan Budayawan
Penerimaan CPNS Dephan & TNI 2008
Hikmah Maulid Nabi Sebagai Teladan Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan

     Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak







Biro Humas Setjen Dephan RI ©2007
Jl. Medan Merdeka Barat No. 13-14 Jakarta Pusat

KOTAK POS 2005 JAKARTA 10020
redaksidmc@dephan.go.id