1

     Languages



     Categories Menu
· Politik & Hankam
· Ekonomi & Hukum
· Iptek&Pendidikan
· Diplomasi Pertahanan
· Kesra & Personel
· Opini/Artikel
· Olahraga & Religi
· Berita TNI Pilihan
· Kliping Internet
· Jurnal
· Tanggapan Kasus

     Statistik
· Statistik


     Perpustakaan
Perpustakaan Dephan

     Sedang Online
Saat ini ada, 30 tamu

Globalisasi Berimplikasi Terhadap Pergeseran Pengelolaan Pertahanan Negara

Selasa, 27 Juli 2010

Jakarta, DMC – Perubahan dinamika lingkungan strategis dan adanya proses globalisasi telah menciptakan suatu tantangan dan peluang baru.  Peluang dan tantangan tersebut memberikan implikasi terhadap adanya pergeseran pengelolaan pertahanan negara.

Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat memberikan keynote speech dan membuka Workshop pemberdayaan SDM pertahanan negara, “The Future Defence Leaders WorkShop 2010”, Senin (26/7) di kantor Kemhan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut Menhan memberikan keynote Speech tentang   “Kaderisasi Pemimpin Pertahanan Negara  yang memiliki karakter, integritas dan kompeten merupakan langkah strategis dalam menjawab pergeseran paradigma  ancaman”.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, globalisasi adalah proses yang terjadi mendunia dan tidak ada suatu bangsa pun yang akan menolak atau menghidarinya. Proses globalisasi diharapkan akan menimbulkan kebersamaan dan persamaan derajat diantara bangsa di dunia, bukan sebaliknya menimbulkan suatu ketergantungan di antara bangsa - bangsa di dunia.

Disisi lain, menurut Menhan  proses globalisasi yang telah menimbulkan tantangan dan peluang baru merubah persepsi dan paradigma ancaman. Saat ini, ancaman bukan lagi ancaman militer tetapi  juga ada  ancaman non militer, sumbernya tidak harus dari luar negeri tetapi juga bisa dari dalam negeri dan aktornya tidak hanya negara tetapi  juga bisa individu atau organisasi.

“Ancaman itu sudah semakin kompleks, mencakup multidimensi dan mempunyai ketidakpastian tinggi. Ini kemudian memberikan implikasi terhadap bergesernya pengelolaan pertahanan”, jelas Menhan

Menhan lebih lanjut menjelaskan,  menghadapi berbagai ancaman yang kompleks tersebut, maka pengelolaan pertahanan negara harus disesuaikan dengan presepsi ancaman  serta  perlunya  melakukan sinergitas lintas sektoral.

Diperlukan suatu sistem sinergitas lintas sektoral yang harus dipersiapkan dan dibangun sejak dini. “Kita harus  bersama - sama dengan stake holder lain untuk membuat suatu deterrence  (penangkal)”, tambah Menhan.

Selain membangun suatu sistem sinergitas lintas sektoral, tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan dan membangun Sumber Daya Manusia pertahanan negara melalui  kaderisasi kepemimpinan dalam pengelolaan pertahanan.

Menurut Menhan, urgensi kaderasisi kepemimpinan dalam pengelolaan pertahanan itu penting.  Kaderisasi kepemimpinan dilakukan untuk menghadapi tantangan globalisasi dan ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, kaderasasi kepemimpinan juga dilakukan dalam rangka untuk memperkuat karakter dan kapasitas sesuai dengan pergeseran paradigma dalam pengelolaan pertahanan negara.

Karakter kepemimpinan atau national and character building itu adalah nasionalisme yang tinggi dengan integritas moral yang kokoh. Sedangkan kapasitas kepemimpinan yang strategis adalah pemimpin yang harus mempunyai wawasan luas dan ketepatan memiliih kebijakan.

Usai dibuka dan penyampaian keynote speech oleh Menhan, acara Workshop diteruskan dengan Diskusi Panel tahap I dengan mengambil tema “ Analisa Lingkungan Strategis : Posisi, Peluang dan Tantangan Indonesia “. Diskusi yang dipandu oleh moderator Dr. Edy Prasetyono,  menghadirkan panelis antara lain  mantan Menhan Prof. Dr. Juwono Sudarsono, Sabam Siagian, dan Prof. Dr. Hasyim Jalal.

Pada kesempatan Diskusi Panel tahap I ini, Sabam Siagian mengulas tentang karakter pemimpin di bidang pertahanan bangsa Indonesia yang mana harus memperhatikan segala faktor rencana dan strategi dimasa datang dari negara-negara maju di sekitar wilayah NKRI dalam mengelola pertahanan dan keamanan.

“Pemimpin dalam bidang pertahanan harus mengamati dan mencermati secara sungguh-sungguh perilaku dari negara Cina dan India serta kekuatan-kekuatan disekitar Indonesia terutama di wilayah Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan,” jelas Sabam Siagian.

Ditambahkan oleh Sabam, di dalam mengkalkulasikan segala kekuatan pengaruh dari negara-negara maju tersebut harus juga didasarkan pada konsepsi atau pemikiran tentang letak geo strategis Indonesia.

Workshop pemberdayaan SDM pertahanan negara yang diselenggarakan oleh Kemhan melalui Ditjen Strategi Pertahanan tersebut dimaksudkan dalam rangka mewujudkan melting point dan terintegrasinya konsep pemikiran Sumber Daya Manusia Pertahanan Negara unggulan di masa depan serta tersedianya calon pemimpin yang memiliki keunggulan integritas leadership dan kenegarawanan

Workshop ini diikuti oleh 85 peserta terdiri Perwira TNI  dan SDM Pertahanan lainnya(sipil). Perwira TNI berjumlah 50 orang berpangkat Pamen hingga Pama. Sedangkan dari sipil berjumlah 35 orang, terdiri dari berbagai sumber baik dari birokrasi, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi serta Organisasi Kepemudaan.

Hadir pada saat acara pembukaan workshop antara lain Gubernur Lemhannas Prof. Dr. Muladi S.H., Ketua Komisi I DPR RI Kemal Azis Stamboel, Kasal Laksamana TNI Agus Suhartono, Wamenhan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Dephan dan Mabes TNI.(BDI/MAW/PGN)


DMC/RAPAEL



 
     Link Terkait
PERLUNYA REFORMASI BIROKRASI GUNA MEMBANGUN PNS DEPHAN LEBIH POTENSIAL
Pentingnya Kesadaran Bela Negara Menjadi Landasan Sikap Dan Prilaku Para Seniman Dan Budayawan
Penerimaan CPNS Dephan & TNI 2008
Hikmah Maulid Nabi Sebagai Teladan Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan

     Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak







Biro Humas Setjen Dephan RI ©2007
Jl. Medan Merdeka Barat No. 13-14 Jakarta Pusat

KOTAK POS 2005 JAKARTA 10020
redaksidmc@dephan.go.id